PENGUATAN KESIAPAN WARGA BINAAN MEMASUKI MASA BEBAS MELALUI PENDEKATAN MULTIDISIPLINER DI LAPAS NARKOTIKA YOGYAKARTA
DOI:
https://doi.org/10.54314/4p9aar82Kata Kunci:
augmented reality; entrepreneurship literacy; inmates; psychological well-being; reintegrationAbstrak
Abstract: This community service program aims to strengthen the readiness of inmates at Yogyakarta Narcotics Prison who are approaching their release period. The project integrates psychological well-being training, spiritual reflection, entrepreneurship motivation, and augmented reality (AR) digital literacy. Methods included pre-assessment of psychological well-being (PWB), group discussions, reflective journaling, roleplay, motivational sessions, and practical AR workshops. Results indicate improvements in inmates’ self-acceptance, social relationships, autonomy, goal setting, entrepreneurial motivation, and basic AR content production skills. The multidisciplinary approach—combining psychology, theology, economics, and informatics—contributed significantly to inmates’ preparation for social reintegration. This model is recommended as a sustainable program for prisons with similar contexts.
Keywords: augmented reality; entrepreneurship literacy; inmates; psychological well-being; reintegration
Abstrak: Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kesiapan narapidana di Lapas Narkotika Yogyakarta yang mendekati masa pembebasannya. Proyek ini mengintegrasikan pelatihan kesejahteraan psikologis, refleksi spiritual, motivasi kewirausahaan, dan literasi digital augmented reality (AR). Metode yang digunakan dalam pengabdian ini, yaitu pra-penilaian kesejahteraan psikologis (PWB), diskusi kelompok, jurnal reflektif, permainan peran, sesi motivasi, dan lokakarya AR praktis. Hasil pengabdian ini menunjukkan peningkatan penerimaan diri narapidana, hubungan sosial, otonomi, penetapan tujuan hidup, motivasi kewirausahaan, dan keterampilan produksi konten AR dasar. Pendekatan multidisiplin—menggabungkan psikologi, teologi, ekonomi, dan informatika—berkontribusi secara signifikan pada persiapan narapidana untuk reintegrasi sosial. Model ini direkomendasikan sebagai program berkelanjutan untuk Lembaga Pemasyarakatan dengan konteks serupa.
Kata kunci: augmented reality; literasi kewirausahaan; warga binaan; kesejahteraan psikologis; reintegrasi
Unduhan
Referensi
Antara News. (2024). Kemenkumham: 52,97 persen penghuni penjara kasus narkoba. https://www.antaranews.com/
Dalbir, N., Wright, E. M., & Steiner, B. (2022). Mental illness, substance use, and co-occurring disorders among jail inmates. Corrections, 7(1), 1–15.
Putrawan, B. K., Sarono, T. B., & Lumingkewas, M. S. (2022). Spiritual development with changes in the social behavior of Christian prisoners. Pharos Journal of Theology, 103(1), 1–12.
Ryff, C. D. (1989). Happiness is every-thing, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069–1081.
Waimuri, A., & Sopamena, A. P. (2024). Strategi pelayanan pastoral untuk warga binaan. MURAI: Jurnal Papua Teologi Kontekstual, 4(1), 55–71.
Wolff, N., Shi, J., & Schumann, B. (2012). Reentry preparedness among soon-to-be-released in-mates and the role of time served. Journal of Criminal Justice, 40(5), 379–385.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Pemberdayaan Sosial dan Teknologi Masyarakat

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.