ANALISIS KANDUNGAN N, P, K, DALAM KOMPOS ORGANIK LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM PUTIH (PLEUROTUS OSTREATUS) DAN KOTORAN SAPI MENGGUNAKAN AKTIVATOR EM4
DOI:
https://doi.org/10.54314/jssr.v8i3.4169Abstrak
Abstract: Large-scale production of white oyster mushrooms (Pleurotus ostreatus) in Indonesia produces solid waste in the form of baglog waste, which still contains high-value organic materials, particularly in Lubuk Minturun, Padang City. However, mushroom baglog waste has great potential as an environmentally friendly and nutrient-rich organic compost material. This study utilized baglog waste from white oyster mushrooms using cow dung as an activator. This research was conducted using an experimental method by designing a mixture of organic materials and adding EM4 to accelerate the decomposition process. The fermentation process lasted for 30 days, with temperature, humidity, odor, and texture monitored to ensure optimal composting. The results showed that the use of EM4 significantly increased the nutrient content of the compost. The combination of mushroom baglog and cow dung produced compost with N, P, and K contents that met the organic compost quality standards based on SNI 19-7030-2004. Thus, the utilization of oyster mushroom baglog waste and cow dung into organic compost is environmentally friendly and produces high-quality organic fertilizer to support agricultural productivity.ÂKeywords: organic compost, fermentation, pleurotus ostreatus, cow dung.
Â
Abstrak: Produksi jamur tiram putih ( pleurotus ostreatus ) di indonesia, dalam skala besar menghasilkan limbah padat berupa limbah baglog yang masih mengandung bahan organik bernilai guna tinggi, khususnya di Lubuk Minturun Kota Padang. Meskipun Demikian, Limbah Baglog Jamur memiliki potensi besar sebagai bahan kompos organik yang ramah lingkungan dan kaya nutrisi. Penelitian ini memanfaatkan limbah baglog dari jamur tiram putih yang menggunakan aktivator dari kotoran sapi. Penelitian ini dilakukan melalui metode eksperimental dengan merancang komposisi campuran bahan organik dan penambahan EM4 untuk mempercepat proses dekomposisi. Proses fermentasi berlangsung selama 30 hari dengan pemantauan suhu, kelembapan, bau dan tekstur guna memastikan berlangsungnya proses pengomposan secara optimal.Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan EM4 secara signifikan meningkatkan kandungan unsur hara dalam kompos. Kombinasi antara baglog jamur dan kotoran sapi mampu menghasilkan kompos dengan kandungan N,P,K yang memenuhi standar mutu kompos organik berdasarkan SNI 19-7030-2004. Dengan demikian, pemanfaatan limbah baglog jamur tiram dan kotoran sapi menjadi kompos organik yang ramah lingkungan sekaligus menghasilkan pupuk organik berkualitas untuk mendukung produktivitas pertanian
Â
Kata kunci : kompos organik, fermentasi, pleurotus ostreatus, kotoran sapi.
Unduhan
Referensi
Djurnani, N., Kristian Dan Setiawan, B.S. (2005). Cara Cepat Membuat Kompos. Cetakan 1. Jakarta: Agromedia Pustaka
Firmansyah, I., Syakir, M., & Lukman, L. (2017). Pengaruh kombinasi dosis pupuk N, P, dan K terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.
Firmansyah, I., Syakir, M. dan Lukman,L. 2017. Pengaruh Kombinasi Dosis Pupuk N, P, K Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman (Solamun melongena L.)
Indriani,Y., H 2005. Membuat Pupuk Kompos Secara Kilat. Jakarta : PT Penebar Swadya.
John, AB (2023). Proses Dekomposisi Bahan Organik dan Peran Mikroorganisme. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, 15 (2), 123-134.
Lathifah, S., Tobing, M. C. dan Martial, T. 2014. Pupuk Organik Kompos memanfaatkan limbah sekitar lingkungan, CV.Kiswatech. Medan.
Mulyanto & Susilawati,I O. 2017. Faktor-faktor yang mempengaruhi budidaya jamur Tiram Putih di Desa Kaliori Kabupaten Banyumas.
Mujiyo et al. 2018. Pembuatan Pupuk Organik Sebagai Wujud Integrasi Ternak Tanaman Dalam Pemberdayaaan Masyarakat.
Natalina, Sulastri dan Aisah, N, N. 2017. Pengaruh Variasi Komposisi Limbah Baglog Jamur, Dengan Kotoran Kambing Pada Pembuatan Kompos’, Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains, 1 (2), pp. 94-101.
Nisa, K. 2016. Memproduksi Kompos & Mikro Organisme Lokal (MOL). Jakarta: Bibit Publisher.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011. Tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah.2011
Paramita Dwi Sukmawati, 2021. Pengaruh perbandingan komposisi antara limbah baglog dengan kotoran sapi menggunakan EM4.
Samekto, R 2006. Pupuk Kompos, Jakarta. PT.Intan Sejati.
Setyorini, D., Saraswati, Anwar E K. (2006) Kompos. Dalam Buku Pupuk Organik Dan Hayati. Bbsdlp-Badan Litbang Pertanian. 11-40.
Siti Rubiah, 2012. Pembuatan Kompos Limbah baglog Jamur Tiram.
Sari, E., & Darmadi, D. (2016). Efektivitas Penambahan Serbuk Gergaji dalam Pembuatan Pupuk Kompos. Bio-Lectura: SNI 19-7030-2004, Spesifikasi Kompos dari Sampah Organik Domestik.
Yuniwati Murni, (2012). “ Optimasi Kondisi proses pembuataan Kompos dari Sampah Organik Dengan Cara Fermentasi Menggunakan EM4â€. Fakultas teknologi Industri Insitut Sains Dan Teknologi AKPRIND : Yokyakarta.
Wahyusi, A., dkk. (2012). Perubahan pH selama Proses Pengomposan dan Dampaknnya Terhadap Kualitas Kompos. Jurnal Ilmu Pertanian




