BUSANA SEBAGAI TANDA KEKUASAAN ATAS KELAS SOSIAL DALAM NASKAH ETIKA BERPAKAIAN DAYAK APO-KAYAN KAJIAN SEMIOTIC ROLAND BARTHES
DOI:
https://doi.org/10.54314/jssr.v8i4.4803Abstract
Abstract: This study aims to examine the manuscript Ethics of Dress of the Dayak Apo-Kayan People by H. F. Tillema (1935) using a philological approach and socio-cultural analysis. In Dayak Apo-Kayan culture, clothing serves not only as bodily protection but also as a social, moral, and spiritual symbol that reflects the community's way of life. The philological examination reveals that the manuscript documents the distinctions in attire between the nobility (parèn biu) and commoners (panyin), illustrating the hierarchical social structure and customary values. The socio-cultural analysis demonstrates that every element of the attire, such as the materials, patterns, and accessories, carries symbolic meaning, signifying social status, cultural identity, and the relationship between humans and spiritual as well as customary values. This research affirms that clothing is a form of symbolic communication representing the value system and social norms of the Dayak Apo-Kayan people. The findings contribute to the preservation of local cultural heritage and enrich philological studies by integrating a socio-cultural approach to understand the interconnections between text, symbolism, and the social structure of a traditional community in Kalimantan.
Keywords: Philology, Dayak Apo-Kayan, Clothing Symbolism, Social Stratification, Local Culture.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Naskah Etika Berpakaian Masyarakat Dayak Apo-Kayan karya H. F. Tillema (1935) melalui pendekatan filologis dan analisis sosial budaya. Pakaian dalam kebudayaan Dayak Apo-Kayan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi juga sebagai simbol sosial, moral, dan spiritual yang mencerminkan tatanan kehidupan masyarakat. Kajian filologis menunjukkan bahwa naskah ini mendokumentasikan perbedaan busana antara golongan bangsawan (parèn biu) dan rakyat biasa (panyin), yang menggambarkan struktur sosial dan nilai adat yang hierarkis. Analisis sosial budaya memperlihatkan bahwa setiap unsur busana, seperti bahan, corak, dan aksesorinya, memiliki makna simbolik yang menandai status sosial, identitas budaya, serta hubungan manusia dengan nilai-nilai spiritual dan adat. Penelitian ini menegaskan bahwa busana merupakan bentuk komunikasi simbolik yang merepresentasikan sistem nilai dan norma sosial masyarakat Dayak Apo-Kayan. Hasil penelitian ini berkontribusi terhadap pelestarian warisan budaya lokal dan memperkaya kajian filologi melalui integrasi pendekatan sosial budaya dalam memahami keterkaitan antara teks, simbolisme, dan struktur sosial masyarakat tradisional di Kalimantan.
Kata Kunci: Filologi, Dayak Apo-Kayan, simbolisme busana, stratifikasi sosial, budaya lokal
Downloads
References
Baried, S. (1994). Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kamila, L. N., Bahar, S., Wijayanti, D. T., Satria, T., Fadhilah, M. R., Alfaruq, F. A., Jl, A., Juanda, I. H., Tim, K. C., & Selatan, K. T. (2025). Pakaian Adat Bundo Kanduang : Simbol Identitas dan Warisan Budaya Minangkabau UIN Syarif Hidayatullah Jakarta , Indonesia. 3.
Kiring, M., Tinggi, S., Teologi, F., & Makassar, J. (2023). Simbol dalam Suku Dayak Kayan Kalimantan Utara. 5(2), 70–80.
Mukti, P. U. (2020). Mata Sebagai Sumber Ide Penciptaan Motif Dalam Busana Modern. IKONIK : Jurnal Seni Dan Desain, 2(1), 1. https://doi.org/10.51804/ijsd.v2i1.60
Prayoga, A. (2022). Nilai dan Makna Sejarah Baju Kurung Labuh Sebagai Baju Adat Khas Riau. 6, 2881–2887.
Shinta, O., Agustina, D., Martono, N., & Julianti, S. (2025). Representasi Simbol-Simbol Kelas Sosial Dalam Serial “ K eluarga Somat .” 6(4), 262–278.
Wardani, L. K. (2010). Fungsi, Makna, dan Simbol (Sebuah Kajian Teoritik). Seminar Nasional Jelajah Arsitektur Nusantara 101010, ITS, 1–10.
Zhang, M. (2024). Cultural Anthropology and Clothing Aesthetics: A Cross-Cultural Analysis. PhilPapers Journal of Cultural Studies.




