MUT‘AH DALAM CERAI GUGAT DI INDONESIA: TELAAH KEADILAN PERSPEKTIF MAQASHID SYARI‘AH
DOI:
https://doi.org/10.54314/jssr.v9i1.5839Abstrak
Abstract: This study examines the discourse on mut‘ah in divorce initiated by the wife in Indonesia, which is not explicitly regulated in statutory law or the Compilation of Islamic Law (KHI). According to Article 158 of the KHI, the right to mut‘ah is granted only to wives divorced by their husbands (talaq), not to wives who file for divorce. This research employs a normative juridical method by analyzing statutory regulations such as Marriage Law No. 1 of 1974 and the KHI, and by comparing them with classical Islamic jurisprudence (fiqh). This approach is combined with an analysis of justice from the perspective of maqashid shari‘ah. The findings indicate that mut‘ah may be granted to a wife in cases of cerai gugat as long as the wife is not nusyuz. Granting mut‘ah to a wife who initiates divorce is viewed as an implementation of justice and as an effort to protect women’s rights in the aftermath of divorce. This study recommends regulatory reform of both statutory law and the KHI regarding the provision of mut‘ah in cases of cerai gugat, in accordance with the values of justice within Indonesian Muslim society. Keywords: mut‘ah, divorce initiated by the wife, KHI, maqashid shari‘ah, marriage. Abstrak: Penelitian ini membahas diskursus mut‘ah dalam cerai gugat di Indonesia yang tidak diatur secara eksplisit dalam undang-undang dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Menurut Pasal 158 KHI, hak mut‘ah hanya diberikan kepada istri yang diceraikan oleh suaminya (talak), bukan kepada istri yang mengajukan perceraian. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan menelaah peraturan perundang-undangan seperti UU Perkawinan No. 1/1974, KHI dan membandingkannya dengan fikih. Pendekatan ini dipadukan dengan analisis keadilan dalam perspektif maqashid syarī‘ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mut‘ah dapat diberikan kepada istri dalam kasus cerai gugat selama istri tidak nusyuz. Pemberian mut‘ah kepada istri yang melakukan cerai gugat dipandang sebagai implementasi keadilan serta sebagai upaya melindungi hak perempuan akibat perceraian. Penelitian ini merekomendasikan perubahan regulasi terhadap undang-undang dan KHI dalam kasus pemberian mut‘ah dalam cerai gugat sesuai dengan nilai keadilan dalam masyarakat Muslim Indonesia. Kata Kunci: mut‘ah, cerai gugat, KHI, maqhasid syari’ah, perkawinan.Unduhan
Referensi
Al-Islamiyah, W. al-A. wa al-S. (n.d.). Mausu’ah al- Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. Dar al-Salasil.
Al-Jashash. (1993). Ahkam al-Qur’Än. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Kasani, A. A. B. I. M. (1986). Bada`i al-Shana’i. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,.
Al-Nawawi. (2003). Al-Majmū‘ Sharḥ al-Muhazzab. Dar al-Fikr.
Al-Qaradawi, Y. (1995). Al-Fiqh al-Islami baina al-Ashalah wa al-Tajdīd. Maktabah Wahbah.
Al-Qayyim, I. (1991). I‘lÄm al-Muwaqqi‘īn. Dar al-Jil.
Al-Qurthubi. (2005). Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. DÄr al-Kutub al-Miá¹£riyyah.
Al-Syatibi, A. I. (1997). Al-Muwafaqat fÄ« Usul al-Syarī‘ah. DÄr Ibn ‘AffÄn.
An-Na‘im, A. A. (1990). Toward an Islamic Reformation. Syracuse University Press.
Auda, J. (2008). Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. International Institute of Islamic Thought.
Azharuddin, Irham, M. I., & Wanto, S. (2024). Sighat Talak: Studi Perubahan Sosial Masyarakat Pada Kekhalifahan Umar Ibn Khattab. MAQASIDI: Jurnal Syariah Dan Hukum, 4(1), 86–95. https://doi.org/10.47498/maqasidi.v4i1.3002
Bps_statistik. (2025). Angka Perceraian di Indonesia Pada Tahun 2024. Instagram@bps_statistik. https://www.instagram.com/p/DRLeHwTkkQ4/?img_index=2
Fahira, A. (2025). Perceraian Meningkat, Solusinya Revisi UU atau Perbaikan Struktural? Bincangperempuan.Com. https://bincangperempuan.com/perceraian-meningkat-solusinya-revisi-uu-atau-perbaikan-struktural/
Maulana, B., Hidayad, I., & Arifin, Z. (2024). Tinjauan Hukum Islam Terhadap Putusan Cerai Gugat Beralasan Suami Terpidana Penjara 1. 3, 145–158.
Muzni, I., & Herinawati. (2024). Analisis Faktor Penyebab Meningkatnya Cerai Gugat Di Mahkamah Syar’iyah Takengon. Jurnal Suloh, 12(2), 299–323.
Nurfatila, D. (2025). Data Kasus Perceraian di Indonesia: Tren, Penyebab, dan Perkembangan Terkini Tahun 2025. Netralnews.Com. https://www.netralnews.com/data-kasus-perceraian-di-indonesia-tren-penyebab-dan-perkembangan-terkini-tahun-2025/bFNSRGdEVG MyNGxESWZVaHh HUUVlQT09
Pratama, R. P., Azkia, Z., & Ismail, A. B. (2023). Pembebanan Nafkah Iddah Dan Mut’ah Dalam Perkara Cerai Gugat Dalam Tinjauan Hukum. Usroh: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 7(1), 11–26.
QudÄmah, I. (1997). Al-MughnÄ«. Dar ‘Alam al-Kutub.
Rahmadani, G., Irham, M. I., Hukum, F., Darma, U., Hukum, P., Universitas, I., Negeri, I., & Utara, S. (2025). Jurnal Rectum DIVORCE MEDIATION : PERAN DAN PENGARUH PSIKOLOG Corresponding Author : mediator yang membantu pasangan menavigasi konflik mereka , memberikan konteks , termasuk dalam psikologi , sosial , dan organisasi . Meskipun keduanya. 156–175.
Rusyd, I. (2001). Bidayah al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyya.
Sanjani, M. R., & Irham, M. I. (2022). Amtsal: Values of Character Education in the Qur’an. Cermin : Jurnal Penelitian, 6(1), 266–280. https://unars.ac.id/ojs/index.php/cermin_unars/article/view/1786/
Sarbini, M., & Yusuf, U. A. (2021). Hukum Cerai Gugat disebabkan Kesulitan Ekonomi. Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam Dan Pranata Sosial Islam, 09(1). https://doi.org/10.30868/am.v9i02.1740
Siregar, L. R., Irham, M. I., & Kunci, K. (2022). Perempuan sebagai Kepala Keluarga : Tafsir Qira ’ ah Mubadalah. 4(2), 219–224. https://doi.org/10.29300/hawapsga.v4i2
Ulandari, N., Mayzahra, S., & Mumtazah, S. (2025). Analisis Hak Mut’ah Dalam Perceraian Yang Diajukan Oleh Istri Menurut KHI Dan Fiqh. Landraad: Jurnal Syariah & Hukum Bisnis, 4, 1–16.
Yusuf, M. F. D., Fakultas, D., Universitas, H., Kuning, L., Kompilasi, D., & Islam, H. (2025). ANALISIS HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF INDONESIA DINAMIKA NAFKAH IDDAH DAN MUT ’ AH PASCA GUGATAN CERAI DI PENGADILAN AGAMA. 4(1), 1–8.




