KOMUNITAS MAHLIGAI BUDAYA: EKSISTENSINYA SEBAGAI WADAH PELESTARIAN DAN IDENTITAS MASYARAKAT MELAYU JAMBI
DOI:
https://doi.org/10.54314/jssr.v8i3.4165Abstract
Abstract: Culture is the result of human power, creativity, feeling, and taste that is passed down from generation to generation, functioning as a guide to interact in society and the environment. In Indonesia, cultural diversity, including in the Jambi Malay community, faces challenges due to generational influences, which cause the loss of cultural values among the younger generation. This study highlights the Mahligai Budaya Community, which was founded in 2015 in Danau Lamo Village, as an effort to preserve Jambi Malay culture. By applying descriptive qualitative methods, this study shows that this community has a significant role in maintaining cultural sustainability through arts training, cultural promotion, and cooperation with related institutions. By involving young people, the Mahligai Budaya Community not only preserves traditions, but also develops their potential and creativity, so that Jambi Malay culture remains relevant in modern times. This study is expected to provide an understanding of the importance of cultural preservation in strengthening community identity.
Â
Keywords: Culture, Jambi Malay, Preservation
Â
Abstrak: Budaya merupakan hasil dari daya, cipta, rasa, dank rasa manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi, berfungsi sebagai panduan untuk berinteraksi dalam masyarakat dan lingkungan. Di Indonesia, keragaman budaya, termasuk di komunitas Melayu Jambi, menghadapi tantangan akibat pengaruh generasi, yang menyebabkan hilangnya nilai-nilai budaya di kalangan generasi muda. Penelitian ini menyoroti Komunitas Mahligai Budaya, yang didirikan pada tahun 2015 di Desa Danau Lamo, sebagai usaha untuk melestarikan budaya Melayu Jambi. Dengan menerapkan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menunjukkan bahwa komunitas ini memiliki peran signifikan dalam mempertahankan keberlangsungan budaya melalui pelatihan seni, promosi budaya, dan kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait. Dengan melibatkan anak muda, Komunitas Mahligai Budaya tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga mengemangkan potensi dan kreativitas mereka, sehinggga budaya Melayu Jambi tetap relevan di zaman modern. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang pentingnya pelestarian budaya dalam memperkuat identitas masyarakat.
Â
Kata Kunci: Budaya, Melayu Jambi, Pelestarian
Downloads
References
Abdillah, F., Manurung, F., Natzmi, A., Harahap, N. H., & Muary, R. (2023). Pengembangan Potensi Generasi Muda Terkait Tradisi Budaya Lokal Sebagai Sarana Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program KKN di Nagori Dolok Mainu. Journal Of Human And Education (JAHE), 3(2), 470-476.
Nahak, H. (2019). Upaya Melestarikan Budaya Indonesia di Era Globalisasi. Jurnal Sosiologi Nusantara, Vol.5 No.1.
Ramli, S. (2018). Filosofi dan aktualisasi seloko adat di Bumi Tanah Pilih Pusako Betuah Kota Jambi. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 2(1), 1–28. https://repository.unja.ac.id/4775/2/Jurnal%20Titian%20Filosofi%20dan%20Aktualisasi.pdf
RRI.co.id. (2025, 3 Juli). Komunitas Mahligai Budaya lestarikan tradisi di Desa Danau Lamo. RRI.co.id. Retrieved Juli 3, 2025, from https://www.rri.co.id/daerah/897246/komunitas-mahligai-budaya-lestarikan-tradisi-di-desa-danau-lamo
Salsabila Annisa Anastasia, dkk. (2023). Pengaruh Penggunaan Tiktok terhadap Peningkatan Hasil Belajar Keragaman Budaya Indonesia. Jurnal Pendidikan dan Konseling, Vol.5 No.1.
Setiawan, D. (2018). Dampak perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terhadap budaya. JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study (E-Journal), 4(1), 62-72.
Setiawan, D., Weni, I., Suratno, T., Arsa, D., & Raaiqa, R. (2022). Pengembangan Ekoturisme Desa Danau Lamo sebagai Desa Wisata Budaya Mandiri Melalui Pemetaan Potensi Desa Berbasis E-Tourism. Jurnal Inovasi, Teknologi dan Dharma Bagi Masyarakat, 4(1), 16-23.
Widiatmaka, P. (2022). Strategi Menjaga Eksistensi Kearifan Lokal sebagai Identitas Nasional di Era Disrupsi. Pancasila: Jurnal Keindonesiaan, 2(2), 136–148. https://doi.org/10.52738/pjk.v2i2.84




