REVITALISASI ETIKA REMAJA LABUHANBATU: ANALISIS SEMIOTIKA TARI PILANDOK TAKIAL-KIAL SEBAGAI PEDOMAN PERILAKU

Authors

  • Tri Rahma Dana Universitas Labuhanbatu
  • Andra Maulana Syachrendra Universitas Labuhanbatu
  • Adib Alriansyah Universitas Labuhanbatu
  • Andini Eka Syafitri Universitas Labuhanbatu

DOI:

https://doi.org/10.54314/jssr.v9i3.6415

Keywords:

tari pilandok takial-kial, semiotika, etika remaja, labuhanbatu, revitalisasi budaya

Abstract

Abstract: This study aims to explore the pedagogical values within the Pilandok Takial Kial dance as an instrument for revitalizing youth ethics in Labuhanbatu Regency. In the digital era, teenagers face challenges of moral degradation and identity crisis that distance them from their local cultural roots. This study employs a qualitative approach with descriptive-analytical methods using Roland Barthes' Semiotic theory. Data were collected through textual observation of movements, literature studies, and in-depth interviews with dance maestros and traditional leaders. The results show that the Pilandok dance is not merely an aesthetic representation of a mousedeer’s movements but a system of signs containing strategic moral messages. Symbols of vigilance (eyes), resilience (takial-kial feet), and manners (worship gestures) are manifestations of the "civilized ingenuity" concept. The implications of this study emphasize the importance of integrating dance philosophy into character education curricula to shape a Generation Z that is intellectually bright yet still upholds Malay values of politeness.

Keywords: Pilandok Takial Kial Dance, Semiotics, Youth Ethics, Labuhanbatu, Cultural Revitalization.

 

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai-nilai pedagogis dalam Tari Pilandok Takial Kial sebagai instrumen revitalisasi etika remaja di Kabupaten Labuhanbatu. Di era digital, remaja menghadapi tantangan degradasi moral dan krisis identitas yang menjauhkan mereka dari akar budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis melalui teori Semiotika Roland Barthes. Data dikumpulkan melalui observasi tekstual gerak, studi literatur, serta wawancara mendalam dengan maestro tari dan tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Pilandok bukan sekadar representasi estetika gerak kancil, melainkan sebuah sistem tanda yang mengandung pesan moral strategis. Simbol kewaspadaan (mata), resiliensi (kaki takial-kial), dan adab (gestur sembah) merupakan manifestasi dari konsep "kecerdikan beradab". Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya integrasi filosofi tari ke dalam kurikulum pendidikan karakter untuk membentuk Generasi Z yang cerdas secara intelektual namun tetap menjunjung tinggi nilai kesantunan Melayu.

Kata kunci: Tari Pilandok Takial Kial, Semiotika, Etika Remaja, Labuhanbatu, Revitalisasi Budaya.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Arikunto, S. (2019). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Barthes, R. (1972). Mythologies (A. Lavers, Trans.). New York: Hill and Wang.

Budiman, K. (2011). Semiotika Visual: Fenomenologi Penanda dan Petanda. Yogyakarta: Jalasutra.

Chandler, D. (2017). Semiotics: The Basics (3rd ed.). Routledge.

Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. Sage Publications.

Danandjaja, J. (2014). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Grafiti Pers.

Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Labuhanbatu. (2020). Profil Kebudayaan dan Kesenian Daerah Kabupaten Labuhanbatu. Rantauprapat: Disporabudpar.

Endraswara, S. (2013). Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hadi, Y. S. (2012). Seni Tari: Pengabdian dan Kreativitas. Yogyakarta: ISI Press.

Haryono, A. (2020). Semiotika Roland Barthes pada Gerak Tari Tradisional sebagai Media Komunikasi Nilai. Jurnal Budaya Nusantara, 3(1), 12-25.

Hoed, B. H. (2014). Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya. Komunitas Bambu.

Lickona, T. (2012). Educating for Character: Mendidik untuk Membentuk Karakter. Bumi Aksara.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Sage.

Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nasution, P. (2018). Adab Melayu dan Kearifan Lokal di Pesisir Sumatera Utara. Medan: USU Press.

Pradopo, R. D. (2015). Pengkajian Sastra: Analisis Semiotika. Gadjah Mada University Press.

Purnomo, A., & Wahyuni, S. (2021). Revitalisasi Seni Tradisional dalam Pembentukan Karakter Remaja di Era Digital. Jurnal Pendidikan Karakter, 12(2), 145-158.

Ramadhan, S. (2019). Nilai-Nilai Filosofis dalam Seni Pertunjukan Melayu Sumatera Utara. Jurnal Kebudayaan dan Seni, 5(2), 88-102.

Ratna, N. K. (2013). Estetika: Pengkajian Seni dari Aspek Subjek, Objek, dan Nilai. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Santrock, J. W. (2011). Adolescence. McGraw-Hill.

Sinar, T. L. S. (2009). Sejarah Etnis Melayu di Sumatera Utara. Medan: Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI).

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sumardjo, J. (2006). Filsafat Seni. ITB Press.

Takari, M. (2014). Seni Tari Melayu: Tradisi dan Inovasi. Medan: USU Press.

Tinarbuko, S. (2008). Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra.

Wahyudiyanto. (2008). Pengetahuan Tari. Surakarta: ISI Press Solo.

Yusuf, M., & Husni, A. (2022). Konstruksi Identitas Budaya Melayu Labuhanbatu melalui Transformasi Seni Tradisional. Jurnal Riset Kebudayaan, 8(1), 34-49.

Zubaedi. (2011). Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Kencana Prenada Media Group.

Downloads

Published

2026-06-23

Issue

Section

Artikel