EVALUASI MULTIDIMENSI KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN BENIH BENING LOBSTER (PUERULUS) DI PERAIRAN KABUPATEN TULUNGAGUNG BERBASIS RAPID APPRAISAL FOR FISHERIES (RAPFISH)

Authors

  • Susadiana Universitas Terbuka
  • Lis M Yapanto Universitas Terbuka
  • Hatim Albasri Universitas Terbuka

DOI:

https://doi.org/10.54314/jssr.v9i3.6586

Keywords:

Sustainability, lobster spawning season, MDS RAPFISH, AHP

Abstract

Abstract: The business of catching lobster seeds is very tempting where with simple collection tools, fishermen can sell lobster seeds from only 12,000 rupiah/tail to reach >5 dollars at the collector level (Priyambodo et al., 2020). People who work as BBL catcher generally sell lobster seeds to collectors who then pass them on to exporters as an export commodity because it is profitable and there is minimal demand for BBL from domestic lobster farming activities (Erlania et al., 2016). The objectives of the study include first to determine the performance characteristics of BBL utilization, second to determine the sustainability status of BBL management, and the third objective is to determine the BBL management strategy. Data collection techniques include interviews, observation and documentation. Data analysis used MDS RAPFISH to determine the sustainability status and AHP to formulate priority strategies for BBL management. BBL catching activities in Tulungagung are carried out by small fishermen using fishing gear in the form of pocong nets and have been running well in accordance with existing regulations (Ministerial Regulation of Maritime Affairs and Fisheries number 7 of 2024). The RAPFISH analysis results indicate a sustainable status with an average index value of 76.19, categorized as sustainable. Meanwhile, the strategic priority analysis (AHP) results indicate the implementation of a closed season based on peak lobster spawning as a policy priority for sustainable lobster spawning management in Tulungagung.

Keywords: Sustainability, lobster spawning season, MDS RAPFISH, AHP

 

Abstrak: Usaha penangkapan benih bening sangat menggiurkan dimana dengan alat pengumpul sederhana, nelayan dapat menjual benih bening lobster dari hanya 12.000 rupiah/ekor hingga mencapai >5 dollar pada level pengepul (Priyambodo dkk, 2020). Masyarakat yang berprofesi menangkap BBL umumnya menjual benih bening lobster ke pengepul yang kemudian diteruskan ke eksportir sebagai komoditas ekspor karena menguntungkan dan minimnya permintaan BBL dari aktivitas pembesaran lobster dalam negeri (Erlania et al., 2016). tujuan penelitian meliputi pertama untuk menentukan keragaan karakteristik pemanfaatan BBL, kedua menetapkan status keberlanjutan pengelolaan BBL, serta tujuan ketiga adalah menentukan strategi pengelolaan BBL. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan MDS RAPFISH untuk penetapan status keberlanjutan dan AHP perumusan strategi prioritas pengelolaan BBL. Kegiatan penangkapan BBL di Tulungagung dilakukan oleh nelayan kecil menggunakan sarana tangkap berupa jaring pocong telah berjalan dengan baik sesuai regulasi yang ada (Permen KP nomor 7 tahun 2024). Hasil analisis RAPFISH menunjukkan status keberlanjutan dengan nilai indeks rata-rata 76,19 pada kategori berkelanjutan. Sedangkan hasil analisis prioritas  strategi (AHP) menunjukkan penerapan musim tertutup berdasarkan puncak pemijahan lobster sebagai prioritas kebijakan untuk pengelolaan BBL di Tulungagung yang berkelanjutan.

Kata kunci: Keberlanjutan, BBL, MDS RAPFISH, AHP

Downloads

Download data is not yet available.

References

Djayanti, D. D., Noor, T. I., dan Tridakusumah, A. C. 2021. Analisis Keberlanjutan Pengelolaan Beni Bening Lobster (Puerulu) Di Kecamatan Cideun Kabupaten Cianjur. Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada. Vol. 23 (2): 79-87.

Erlania, E., Radiarta, I. N., & Haryadi, J. (2016). Status pengelolaan sumberdaya benih lobster untuk mendukung perikanan budi daya: Studi kasus perairan Pulau Lombok. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, 8(2), 85–96. http://dx.doi. org/10.15578/jkpi.8.2.2016.85-96

Jones, C. M., Le Anh, T., & Priyambodo,

B. (2019). Lobster aquaculture development in Vietnam and Indonesia. Dalam: Radhakrishnan E., Phillips B., Achamveetil G. (eds). Lobsters: Biology, Fisheries and Aquaculture, 541–570. Springer.

KKP [Kementerian Kelautan dan Perikanan]. 2022. Pendederan Lobster (Panulirus spp.). Lampung : Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung.

Nawangsari, H., dan Ismaili, A.F. 2022. Analisis Keberlanjutan Trans Jogja Melalui Metode Multidimensional Scaling (MDS) RAPFISH. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota. Vol. 18 (3): 222 – 234

Nurdin, H.S., Susanto, A., dan Danisworo, E. 2023. Komposisi dan Produktivitas Hasil Tangkapan Benih Lobster (Panulirus spp) Menggunakan Jaring “Pocong” Di Perairan Binuangeun. Vol.8 (2) : 77-86.

Priambodo, B., Jones, C. M., & Sammut, J. 2020. Assessment of the lobster puerulus (Panulirus homarus and Panulirus ornatus, Decapoda: Palinuridae) Resource of Indonesia and its Potential for Sustainable Harvest for Aquaculture. Aquaculture, 528, 735563.

Rani, S.T., Yudha, I.G., Caesario, R., dan Mahardika, A.H. 2022. Status Keberlanjutan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Di Kabupaten Tangerang. Aquacoastmarine. Vol. 1 (1): 7-15.

Rizki, R., Simbolon, D., dan Mustaruddin. 2017. Interaksi Kebijakan Perikanan Tangkap dan Kearifan Lokal Di Perairan Utara Aceh. Albacore. Volume 1 (3): 257

Wijopriono, Wiadnyana, N.N., Dharmadi, dan Suman, A. 2019. Implementasi Penutupan Area dan Musim Penangkapan Untuk Pengelolaan Perikanan Udang Di Laut Arafura. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia. Volume 11 (1) : 11-21.

Downloads

Published

2026-06-23

Issue

Section

Artikel